Jumat, 17 Juni 2011

Legenda Episode 8 : Malin Kundang

Malin Kundang, kembali legenda ini dari rahan Minang. Rupanya ranah Minang memang banyak melahirkan para penyair bahkan sebelum negeri ini mengenal sumber daya alamnya lebih jauh. Salah satunya kita bilang ada Siti Nurbaya, ada juga kali ini Maling Kundang, HAMKA-pun meggoreskan pena untuk Tenggelamnya Kapan Van De Wijk juga dengan latar ranah Minang.

Anak durhaka, yah inilah yang selalu melakat pada diri seorang Malin Kundang. Seorang anak yang dikutuk oleh ibunya karena sombong dan tidak mengakui siapa ibunya, dan inilah dongeng yang sarat dengan nilai pendidikan betapa seorang anak harus menghormati kedua orang tuanya dan suatu peringatan bahwa orang tua adalah keramat hidup, keramat yang bisa berjalan dan bertindak. Tapi apakah kita yang sering dan terlalu sering mendengar dongeng Malin Kundang dan bahkan menceritakannya kembali pada anak-anak sebelum tidur, sempatkan kita sadar bagaimana perlakuan kita pada orang tua kita dan apa yang sudah kita berikan pada mereka. Keprihatinan sepanjang masa atau kebahagiaan sepanjang masa ?

Inilah Malin, terlahir sebagai anak nalayan dipesisir pantai Padang Sumatera Barat, demikian latar cerita menjelaskan. Ia memang anak nakal, tapi dibalik kenakalannya ia sangat pandai dan pintar. Dengan seorang ayah yang hanya nelayan, rupanya kurang cukup untuk menafkahi keluarga. Maka sang ayahpun memutuskan kenegri seberang dengan harapan dapat nafkah berlebih disana. Tapi waktu menjawab ayah Malin tak pernah pulang.

Praktis, ibunyalah kini sebagai tulang punggung keluarga. Kala itu Malin masih kanak-kanak dan masih suka bermain kesana kemari terutama berkejaran ayam. Hobinya inilah yang kemudian memberinya luka dilengan yang tak dapat hilang. Malin beranjak dewasa dan ia mulai kasihan melihat ibunya makin renta dan kehabisan tenaga jika bekerja terus menerus. Ia pun mengikuti jejak ayahnya mencari nafkah kenegeri seberang. Meski dengan berat hari dan trauma dengan kisah sang suami, tapi dengan desakan Malin ibunyapun mengijinkan Malin kenegeri seberang dengan satu pesan. Jika kelak Malin  jadi orang kaya dan sukses, janganlah dilupakan ini ibu dan kampung halaman.

Dermaga sebagai saksi ibu Malin terus melambaikan tangan dan meneteskan air mata kala kapal yang ditumpangi Malin semakin menjauh menuju tengah laut. Di tengah perjalanan, sial bajak laut membajak kapal Malin dan seluruh isinya termasuk beberapa anak buah kapal harus kehilangan nyawa. Beruntung Malin menemukan sebuah ruang kecil tertutup kayu dan bersembunyilah ia disana. Hingga bajak laut meninggalkan kapal dan pergi, Malin tetap berada di kapal dan terlantar dilautan. Ombak jugalah yang membawanya terdampar disebuah daratan subur makmur. Singkat cerita Malinpun memetap disana.

Mulai dari hal terkecil dan dengan keuletan serta kepintaran yang memang bawaannya. Malin mengolah tanah dan waktu juga yang mengantar Malin jadi seorang saudagar kaya raya dengan ratusan kapal dagang dan ratusan anak buah. Kabar kesuksesan Malin inilah juga memberi semangat hidup baru bagi ibunya diseberang. Setiap hari, Ibu Malin pergi ke dermaga dimana dulu ia melapas anak satu-satuya itu, tak lain harapannya selain menjemput anaknya pulang kembali dalam pelukannya.

Penantiannya tak sia-sia, suatu hari sebuah kapal mewah dengan perhiasan nan indah dan dua orang sepasang suami istri berdiri di geladak. Ibu Malin yakin itulah anak yang selama ini ia nantikan, Malin.

Benar, kedua orang kaya inipun turun geladak. Disambut hiruk pikuk orang berkeliling menggumi mereka dan kekayaanya. Disanalah Ibu Malin mendekat, melihat lengan kanan si lelaki, ada luka disana dan itulah Malin, luka yang ia dapat ketika kecil sering ngejar-ngejar ayam. Spontan ia peluk anak itu sambil menyerukan rasa rindu yang mendalam pada anak tersayang. Tapi Malin melemparnya. Ia tak sudi dipeluk wanita tua miskin dengan pakaian compang-camping demikian, meskipun dalam geti kecilnya Malin tau itulah ibunya. Tapi ia malu mengakui karena terlalu kontras dengan kekayaan yang ia miliki. Rasa malu Malin yang berujung petaka baginya. Ibunya berucap sumpah, seketika ombak menyerang kapalnya, pecah, hancur berantakan, dan Malin jadi batu bersujud di kaki ibunya.

Dari sinopsis cerita Malin Kundang inilah kemudian di pantai Aia di selatan Kota Padang, disana ada batu yang menyerupai orang bersujud, nah inilah yang dipercaya sebagai pewujudan bentuk Malin Kundang.

Malin Kundang, pernah hidup atau tidak orang tak pernah tahu dan kalaupun dia pernah hidup dan sebagai saudagar kaya raya, setidaknya ada bukti tertulis tentang dirinya, maklum yang namanya orang kaya toh tetap jadi pusat perhatian dari masa ke masa, biasanya berupa syair atau catatan para pujangga waktu itu. Tapi ini tak pernah ditemukan dan kapan, dimasa apa Malin Kundang hidup juga tak pernah terdeteksi. Tapi dari analisa kisah cerita dan latar, bisa dimungkinkan Malin ada sejak terbukanya jalur perdagangan internasional oleh nusantara. Entah pada masa Kerajaan Sunda Kelapa atau Sriwijaya.

Keberadaan Malin yang sebatas dongeng, atau hanya cerita pengantar tidur dari orang tua terus menurun hingga generasi sekarang. Inilah alasan kenapa Malin Kundang tetap hidup dari masa ke masa, mulai dari zaman surat tertulis di daun kelor hingga zaman e-mail seperti sekarang. Nyatanya toh tetap banyak Malin Kundang terekspose dalam dunia maya.

Malin Kundang dengan kedurhakaannya berhasil melewati waktu dan menembus batasan masa. Inilah titik kepantasan Malin Kundang masuk dalam salah satu daftar Legenda, menemani tokoh-tokoh legenda lainnya bahkan selevel Arjuna.


Terimakasih untuk IndonesiaIndonesia atas koleksi image batu Malin Kundang.
Di posting di deroom pada 4 Juni 2009.
Artikel/ kata kunci Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar